Wednesday, November 26, 2014

JEND. BESAR TNI PURN. H.M. SOEHARTO

Riwayat




Asal                            : Kemusuk, Yogyakarta, Indonesia
Tgl lahir                       : 8 Juni 1921
Tgl wafat                     :27 Januari 2008
Nama ortu                   : -Ayah : Kertosudiro
                                      -Ibu   : Sukirah
Tgl dan tmpt menikah    : 26 Desember 1947 di Solo Jawa tengah
Anak                            : -Siti Hardiyanti Hastuti (Mbak Tutut)
                                      - Sigit Harjojudanto
                                      - Bambang Trihatmodjo
                                      - Siti Hediati Herijadi
                                      - Hutomo Mandala Putra (Tommy)
                                      - Siti Hutami Endang Adiningsih
Istri                              : Raden Ayu Siti Hartinah



Biografi

Jend. Besar TNI Purn. H.M. Soeharto dikenal sebaga satu-satunya Presiden di Indonesia yang memiliki masa jabatan terlama yaitu sekitar 32 Tahun. Dikenal dengan sebutan "Bapak Pembangunan", Soeharto di bawah pemerintahannya sukses mengantarkan Indonesia menjadi negara Swasembada dimana sektor dibidang pertanian amat berkembang dengan pesatnya melalui Program Rapelitanya. Pada saat masih sekolah, Soeharto kecil berpindah-pindah sekolah karena situasi dan kondisi orang tuanya. Ditahun 1941 tepatnya di Sekolah Bintara, Gombong di Jawa Tengah, Soeharto terpilih sebagai Prajurit Telatan, sejak kecil ia memang bercita-cita menjadi seorang tentara atau militer. Kemudian pada tanggal 5 Oktober 1945 setelah Indonesia merdeka, Soeharto kemudian resmi menjadi anggota TNI.

Berikut adalah Riwayat Soeharto:

  Pendidikan

•             SD di Tiwir, Yogyakarta, Wuryantoro dan Solo (1929-1934)
•             SMP dan Sekolah Agama, Wonogiri dan Yogyakarta (1935-1939)
•             Masuk KNIL dan Mengikuti Pendidikan Dasar Militer di Gombong, Jateng (1 Juni 1940).
•             Sekolah Kader di Gombong (2 Desember 1940)
•             Masuk Kepolisian Jepang Keibuho (Mei 1943)
•             SSKAD, Bandung (1959-1960)

   Karir

•             Menjadi Shodanco (Komandan Peleton) PETA di Yogyakarta (8 Oktober 1943)
•             Menjadi Cudanco (Komandan Kompi) PETA setelah Mengikuti Pendidikan (1944)
•             Kembali ke Yogya dan Membentuk Barisan Keamanan Rakyat (Agustus 1945)
•             Dan Yon Brigade (1945 – 1950)
•             Komandan Brigade Pragola Sub Teritorium IV Jawa Tengah (1953)
•             Komandan Resimen Infanteri 15 (1953)
•             Kepala Staf Teritorium IV Divisi Diponegoro (1956)
•             Deputi I Kasad (1960)
•             Ketua Komite Ad Hoc Retooling TNI – AD (1960)
•             Atase Militer RI di Beograd, Paris dan Bonn (1961)
•             Panglima Mandala Pembebasan Irian Barat (1962)
•             Panglima Kostrad (1963 – 1965)
•             Pimpinan Sementara TNI – AD (1965)
•             Panglima TNI – AD (1966)
•             Ketua Presidium Kabinet Ampera (1966)
•             Pejabat Presiden RI (1967)
•             Presiden RI Hasil SU MPR (TAP MPRS No. XLIV/MPRS/1968 Masa Jabatan Pertama)
•             Merangkap Jabatan Menteri Pertahanan dan Keamanan (6 Juni 1968)
•             Terpilih Kembali Sebagai Presiden RI (TAP MPR No. IX/1973 Masa Jabatan ke-Dua)
•             Terpilih Kembali Sebagai Presiden RI (TAP MPR No. X/1978 Masa Jabatan ke-Tiga)
•             Terpilih Kembali Sebagai Presiden RI oleh SU MPR (TAP MPR No. VI/MPR 1983 Masa Jabatan ke-Empat)
•             Terpilih Kembali sebagai Presiden RI pada 10 Maret 1988 Masa Jabatan ke-Lima.
•             Ketua Gerakan KTT Non Blok (GNB) (1992-1995)
•             Terpilih Kembali sebagai Presiden RI oleh SU MPR pada 11 Maret 1993 Masa Jabatan ke-Enam.
•             Ketua Asia Pasific Economic Cooperation (APEC) di Bogor
•             Terpilih Kembali sebagai Presiden RI untuk masa bakti 1998-2003 Masa Jabatan ke-Tujuh (namun mengundurkan diri pada 21 Mei 1998).
Jalan panjang dan berliku dilalui Soeharto ketika merintis karier militer dan juga karier politiknya. Dalam bidang militer Soeharto memulainya dengan pangkat sersan tentara KNIL, dari situ ia kemudian menjadi Komandan PETA pada zaman penjajahan Jepang, setelah itu ia menjabat sebagai komandan resimen berpangkat mayor kemudian menjabat komandan batalyon dengan pangkat Letnan Kolonel.







       Jika direnungkan banyak jasa-jasa besar yang dilakukan Soeharto untuk pembangunan dan perkembangan Indonesia dimata dunia Internasional, sebagian  rakyat yang pernah hidup di zaman Presiden Soeharto menganggap zaman Soeharto merupakan zaman keemasan Indonesia, karena harga-harga kebutuhan pokok yang  murah dimasa itu yang berbanding terbalik dengan zaman sekarang ini, pertumbuhan ekonomi yang stabil, Presiden Soeharto berhasil merubah wajah Indonesia yang awalnya menjadi negara pengimpor beras menjadi negara swasembada beras dan turut mensejahterahkan petani. Sektor pembangunan dimasa Presiden Soeharto dianggap paling maju melalui Repelita.

Tetapi disisi lain banyak pula yang berpendapat bahwa pada masa Soeharto adalah mimpi buruk.
karena :
1. Aspirasi masyarakat kurang didengar
2. Pembagian PAD tidak merata sebesar 70 % dari hasil daerah dikirim ke pusat yaitu Jakarta sehingga tampak sekali kesenjangan dalam pembangunan yang terjadi di daerah pusat dan daerah terpencil
3. Adanya diskriminasi terhadap keturunan Tionghoa
4. Semaraknya korupsi, kolusi, nepotisme
5. Munculnya rasa ketidakpuasan di sejumlah daerah karena kesenjangan pembangunan, terutama di Aceh dan Papua
6. Kecemburuan antara penduduk setempat dengan para transmigran yang memperoleh tunjangan pemerintah yang cukup besar pada tahun-tahun pertamanya
7. Bertambahnya kesenjangan sosial (perbedaan pendapatan yang tidak merata bagi si kaya dan si miskin)
8. Pelanggaran HAM  kepada masyarakat non pribumi (terutama masyarakat Tionghoa)
9. Kritik dibungkam dan oposisi diharamkan
10. Kebebasan pers sangat terbatas dan diwarnai oleh banyak koran dan majalah yang dibredel
11. Penggunaan kekerasan untuk menciptakan keamanan antara lain dengan program "Penembakan Misterius"
12. Tidak ada rencana suksesi (penurunan kekuasaan ke pemerintah/presiden selanjutnya)
13. Menurunnya kualitas birokrasi Indonesia yang terjangkit penyakit Asal Bapak Senang, hal ini kesalahan paling fatal Orde Baru karena tanpa birokrasi yang efektif  negara pasti hancur
14. Menurunnya kualitas tentara karena level elit terlalu sibuk berpolitik sehingga kurang memperhatikan kesejahteraan anak buah
15. Indikator Keberhasilan Pendidikan pada Masa Orde Baru merupakan kebohongan publik
16. Ekonomi pada Masa Orde Baru yang selalu diagung-agungkan adalah ekonomi yang berdiri dan berkembang pesat di atas pondasi hutang
17. Dwifungsi ABRI
18. PNS ikut berpolitik
     


Pada tahun 1997 Indonesia dilanda krisis moneter yang merupakan dampak dari Krisis Finansial Asia sehingga perekonomian Indonesia hancur salah satu akibatnya adalah kurs rupiah terjun bebas dari Rp 2.500 sampai Rp 20.000 sehingga terjadi inflasi menyebabkan investor-investor asing menarik semua sahamnya dan tidak mempercayai Indonesia sebagai Negara tempat mereka menanamkan sahamnya. Situasi yang sulit yang melanda bangsa Indonesia mempengaruhi semua bidang dan berakhirlah masa pemerintahan Presiden Soeharto ditandai dengan demo besar-besaran yang dilakukan oleh mahasiswa (tragedi trisakti). Melihat masyarakat yang memberontak maka presiden Soeharto mengajukan pemunduran diri sebagai presiden Indonesia pada 21 Mei tahun 1998.

                       



Analisis Kepemimpinan

   Gaya Kepemimpinan Presiden Soeharto merupakan gabungan dari gaya kepemimpinan Proaktif-Ekstraktif dengan Adaptif-Antisipatif, yaitu gaya kepemimpinan yang mampu menangkap peluang dan melihat tantangan sebagai sesuatu yang berdampak positif serta mempunyal visi yang jauh ke depan dan sadar akan perlunya langkah-langkah penyesuaian.

Tahun-tahun pemerintahan Suharto diwarnai dengan praktik otoritarian di mana tentara memiliki peran dominan di dalamnya. Kebijakan dwifungsi ABRI memberikan kesempatan kepada militer untuk berperan dalam bidang politik di samping perannya sebagai alat pertahanan negara. Demokrasi telah ditindas selama hampir lebih dari 30 tahun dengan mengatasnamakan kepentingan keamanan dalam negeri dengan cara pembatasan jumlah partai politik, penerapan sensor dan penahanan lawan-lawan politik. Sejumlah besar kursi pada dua lembaga perwakilan rakyat di Indonesia diberikan kepada militer, dan semua tentara serta pegawai negeri hanya dapat memberikan suara kepada satu partai penguasa Golkar.

Dari periode ke periode kekuasaan Presiden Soeharto digambarkan Soeharto sebagai Kepala Negara, sebagai pusat kekuasaan politik di Indonesia. Perilaku kepemimpinan Presiden Soeharto ada yang berorientasi pada hubungan, tetapi juga ada yang berorientasi pada tugas. Gaya kepemimpinan Presiden Soeharto yang berorientasi pada hubungan digambarkan sebagai gaya kepemimpinan yang otoriter, kurang demokratis, mengutamakan hubungan dengan para menteri dan pejabat di bawahnya, serta fleksibel: dapat dengan mudah menyesuaikan diri dengan perkembangan situasi dan kondisi. Gaya kepemimpinan yang berorientasi pada tugas direpresentasikan sebagai gaya kepemimpinan penuh perhatian pada pembangunan dalam lingkup nasional, tidak membedakan pembangunan daerah perdesaan dan perkotaan meskipun hanya berorientasi pada pembangunan sektor ekonomi saja. Selain itu, dari caranya mempengaruhi orang lain, gaya kepemimpinan Presiden Soeharto oleh media juga digambarkan sebagai gaya yang cenderung otoriter. Meskipun menggunakan kata-kata atau kalimat netral, tidak bersifat persuasive atau coercice, dan diikuti dengan penjelasan secukupnya. Sebagai seorang pemimpin, Presiden Soeharto juga digambarkan sebagai seorang yang tidak suka menonjolkan diri.

Bila melihat dari penjelasan di atas maka jelas sekali terlihat bahwa mantan Presiden Soeharto memiliki gaya kepemimpinan yang otoriter, dominan, dan sentralistis.


Sumber dan Referensi





No comments:

Post a Comment